hi guys gue mw post sinopsis pendek cerita gue nih tp gue minta tolong bgt ya kritik dan sarannya
karena mw gue coba publish ke percetakan hehehehehe
ini bab pertama aja yg gue post heehehe
Ada
seorang gadis yang menurut orang dia
terlihat “perfect”. Dia cantik,baik,pintar tapi rada galak, dia juga tomboy, tetapi
dia selalu tampil rapih, ga pernah urak-urakan
“hai
Na” sapa seorang cowok yang bernama Franklyn
“hai
juga” jawab gue. Oh iya sebelumnya kenalin, nama gue Christina Elizabeth Laurentcia, gue memiliki banyak sahabat cowok,
termasuk yang menyapa gue tadi. Mari kenalan dengan sahabat-sahabat gue. Yang nyapa gue tadi bernama Franklyn, ia memiliki adik yang lahirnya hanya beda bulan. Dia
bulan Februari, adiknya bulan Mei yang bernama Stefanus. Teman SDnya Stefanus bernama Ferdinan, Teman SMP kakaknya
bernama Rio, ada Kevin, ada Jo nama panjangnya Jonathan,
ada Ias nama panjangnya Andreas, ada
Rendi, dan ada Lukas dan kata orang genk kami
sering disebut famous. katanya sih,
mereka (sahabat-sahabat gue) banyak dikagumi sama anak-anak cewek disklh gue
dan katanya juga gue banyak dikagumi sama anak-anak cowok disklh gue.
“jalan
yok?” tawar Rio ke gue. “kemana?” tanya gue santai. “maunya kemana?” tanya
Andreas. “ya gue sih terserah kalian-kalian” jawab gue masih dengan santai. “ah
lo ngomong gitu karna ga punya duit kan?” tanya Jonathan, gue yang mendengar
perkataan itu hanya bisa ber-hehe-ria.
“gimana
kalo kita ke mall?” tawar Lukas kepada
kita semua. “uang dari mana lo?” tanya Franklyn sedikit sewot.“kalo ke mall gue
ga ikut deh” kata Franklyn
“selow
man, kita patunganlah. Gimana setuju
ga?” tawar Lukas. “kalo gue sih terserah nana” kata Andreas sambil mengedipkan
mata kearah gue
“loh
ko gue?” tanya gue bingung. Mereka semua hanya bisa ber-hehe-ria melihat
ekspresi gue. “iyalah, kan lo queen
digenk kita” jawab Andreas sambil
menggoda gue. Gue yang digoda langsung mencibir
“apaan?
queen?prreett” jawab gue sambil
ber-haha-ria. Mereka yang mendengar itu langsung ikut tertawa. “gue sih
terserah kalian” kata gue
“
yaudahlah sekali-kali kita ke mall,
biasanya kan kita nongkrong dipinggiran” kata Stefan. “Nana sama gue aja” kata
Franklyn. “gue” jawab Jonathan yang ga mau kalah, sedangkan suasana riuh karna
pertengkaran mereka. Gue yang diperebutkan hanya bisa senyum-senyum melihat
ulah sahabat-sahabat gue.
“kalo
kayak gini kapan berangkatnya?” tanya gue kepada mereka. Mereka yang tadiannya
perang mulut kini berebut menawarkan motor terhadap gue.
“senang
deh bisa kenal dengan kalian. Smoga pertemanan kita sampe akhir ya, kalo perlu
sampe maut yg memisahkan” kata gue ramah sambil tersenyum
“iya
gue juga pengen seperti itu Na. smoga aja” kata Kevin. “oh iya gue mau nanya
dong, kalian baik sama gue ga ada maksud
tertentu kan?” tanya gue pada sahabat-sahabat gue. “ya enggaklah Na” sahut
mereka barengan. “kita tulus ko berteman sama lo” kata Jo. “benar ya?” tanya gue ragu. “tapi
kita ga boleh berantem apa pun masalahnya, sepele apa pun. Ok?” kata gue sambil
tersenyum. “kita janji na” sahut mereka, lalu kita melanjutkan perjalanan kita
“smoga aja ga hanya sekedar janji” batin
gue sambil tersenyum. Ketika selesai berbincang-bincang kita langsung menuju
tempat yang kita tuju.
Mall
“wah
gila jalan-jalan ke mall bareng
kalian tuh terasa beda banget” kata Andreas. “beda gmna mksd lo?” tanya
Franklyn bingung. “ya beda aja gitu” kata Andreas. “gue setuju sama Andreas”
kata Kevin. “iya apa lagi ada Nana” goda Rendi sambil melirik kearah gue. “gue
lg gue lg” kata gue sambil menggerutu. Ketika gue menggerutu, mereka hanya
tertawa bahagia. “ya jelas dong, lo paling cantik kok digenk kita” kata Rio. “ah bisa aja lo” kata gue sambil tersipu malu.
“kata Rio benar na” kata Jo sambil membenarkan omongan Rio
“Na,
bagus ga?” kata Stefanus sambil menunjukan sebuah gelang kearah gue. “bagus ko”
jawab gue singkat sambil tersenyum. “kalo baju ini?” tanya Rendi ke gue sambil
menunjukkan baju yg dipegangnya. “hmm” kata gue sambil bergeming. Setelah
beberapa menit baru gue lanjutin omongan
gue. “motifnya gue ga suka” kata gue. “kalo ini na?” tanya Kevin kearah gue
sambil menunjukkan sebuah kalung. “bagus banget, gue suka. Motif sama warnanya
serasi banget” kata gue bahagia. “lo suka na?” tanya Kevin “banget” kata gue.
“yaudah nih buat lo aja” kata Kevin sambil memberikan kalung yg td dia tanya ke
gue. “buat gue?” kata gue heran. “iya” kata Kevin sambil tersenyum. “tp itu kan
lo yg pilih, udah buat lo aja” kata gue sambil memberikan kembali kalung itu.
“lo ga mau karna takut bayarnya ya?” goda Kevin. Ketika Kevin ngomong gitu, gue
hanya cengengesan. “soal bayarnya lo ga usah khawatir” kata Kevin sambil
tersenyum. “serius lo?” tanya gue ga percaya, Kevin hanya mengangguk. “makasih
ya?” kata gue merasa ga enak hati. “tp seriusan nih buat gue?” tanya gue ragu
sambil menggigit bibir. “serius” kata Kevin bahagia. “makasih Kevin” kata gue
sambil memeluk Kevin -refleks-. “ehm” kata Rendi sambil berdehem. Ketika Rendi
berdehem, gue melepaskan pelukan gue lalu gue dan Kevin tertawa. ketika gue dan
Kevin tertawa bareng, Lukas cemburu “enak
ya jd lo vin, bisa dapet pelukan gratis dari nana trus bisa bikin dia tertawa.
Coba gue diposisi lo ya vin, pasti gue senang banget” batin Lukas. “knp lo Kas?
Ngeliatin kita sinis bgt?” tanya Kevin. “ga pa-pa” jwb Lukas datar. “jgn bhg
lo, blg aja lo cemburu kan?” kata gue sedikit ketus. “ga” jwb Lukas masih dgn
suara yg datar. “bohong, ayo ngaku?” goda gue ke Lukas sambil mengelitikin
badannya Lukas. “iih serius” kata Lukas ke gelian, ketika Lukas ingin bales gue
udah kabur duluan sedangkan Lukas mengejar gue
“ehm,
kalau mau pacaran nanti aja, ayo kita jalan-jalan lg” kata Jo yg lgsg disambut
baik oleh kami. “habis ini kita kemana lg?” tanya gue ke sahabat-sahabat gue.
“makan aja yok?” usul Andreas. “makan? Ga deh” jwb gue.“nonton aja” tawar Kevin.yg
lain setuju kecuali gue. “ayo” jawab sahabat-sahabat gue serentak. “gue ga ikut
ya? gue ga tertarik buat nonton” izin gue ke sahabat-sahabat gue. “ trus kl lo
ga nonton, lo mau kemana?” tanya Rendi. “mau jalan-jalan aja, sekalian ngeliat
barang-barang yg bagus” jawab gue simple. “lah gimana sih? Masa bikin acara
sendiri, ga bisa gitu dong” kata Stefan sewot. “yaudah sih kl dia ga mau ikut sama
kita ga usah dipaksa” kata Franklyn datar. “benar tuh kata Franklyn” kata gue
sambil menyetujui perkataannya Franklyn. “yaudahlah terserah lo, pokoknya kl
kita udh selesai, kita sms lo ya? lo jgn pulang duluan” kata Rendi. “siip bos”
kata gue sambil cekikikan. Setelah itu kita mencar,
ke 9 teman gue pd nonton sedangkan gue jalan-jalan sambil melihat-lihat
barang-barang yg bagus. ketika gue jalan-jalan, gue ketemu cowok yg gayanya sok oke, emang sih badannya ideal tp itu
bukan tipe gue bgt. Ketika gue lg asik liat-liat dompet, tiba-tiba tuh cowok
nabrak gue, bukannya minta maaf malah lgsg pergi. “cowok ga tau diri” gerutu
gue kesal
Basecamp
Diem-diem Nana menaruh
hati ke Andreas, ga ada yg tau tentang itu termasuk orang yg bersangkutan,
karna Nana bersikap biasa, ga ada tanda-tandanya, dia mampu menyembunyikannya
tentang itu. Ketika Nana menaruh hati ke Andreas, sepertinya Andreas jg menaruh
hati tp mereka merasa nyaman dgn status “friendzone”
nya.
“Hai Ias” sapa gue ke
Andreas yg sedang asik nonton tv, ketika ada yg menyapanya dia langsung menoleh
dan tersenyum dan kembali melanjutkan nonton tvnya. “udah cma gtu doang?” batin gue bĂȘte. Ketika Andreas cma membalasnya
bgtu, gue memilih untuk pergi. “cma gtu
doang na? tumben” batin Andreas heran tp kepengen ngobrol lebih lma lg sama
gue.
Keesokan Harinya
Balkon
Gue sendirian, bengong
tanpa ada yg gue pikirin. Ketika gue lg asik berdiem diri di balkon tiba-tiba
sahabat gue, yaitu Kevin, Stefan, dan Franklyn datang.
“woiii” kata
sahabat-sahabat gue sambil teriak kearah gue. “berisik lo” kata gue sensi. “waelah,
ngapa sih lo? Sensi bgt, udah kayak nenek-nenek yg sedang sakit gigi” kata Kevin
jutek. “kepo bgt sih lo” jawab gue galak. “keviiinn” teriak Andreas dari dlm
basecamp “jgn ganggu gebetan gue” kata Andreas yg tiba-tiba bikin hati gue
loncat kegirangan tp ga gue tunjukin ke mereka-mereka. “apaan sih lo yas, sok
asik” kata gue pura-pura galak. Ketika gue lg sensi, tiba-tiba Andreas
menghampiri gue dan memberi kode ke 3 sahabat gue untuk ninggalin mereka
berdua.
“lo marah karna gue
cuekin?” tanya Andreas, gue ga memblsnya. “lo marah karna gue cma senyumin?”
tanya Andreas sekali lg, tp masih ga gue bls. “eh gue ngomong sama lo keles,
gue diginiin serasa ngomong sama tembok tau ” bentak Andreas. “gue lg pengen
sendiri” jawab gue singkat. “yaelah gue ngomong dua kali, lo cma bls sekali?
Singkat lg, ywdh gue ga bakal ganggu lo” jawab Andreas ketus lalu meninggalkan
gue sendirian. “dasar cowok ga peka, lo
pikir gue ga blh ngambek apa? Gue ngambek jg pengen di perhatiin keles”
batin gue kesal
Basecamp
Ketika Andreas lg duduk
sambil dengerin music, gue mencoba menghampirinya. “Ias marah sama gue?” tanya
gue pelan, Andreas ga denger karna lg denger lagu pake headset. “Ias, Ias marah ya sama gue?” tanya gue sekali lg, karna
kesel di cuekin, headset yg digunakan Andreas gue cabut. “apaan sih lo?
Datang-datang main tarik aja” bentak Andreas. Ketika Andreas membentak gue, gue
hanya diam tp raut wajah berubah, Andreas yg menyadari akan kesalahannya
langsung minta maaf. “maaf Na” kata
Andreas merasa bersalah, gue diam lalu pergi. “ah tolol lo yas tolol, jd cowok kasar bgt, udh tau akhir-akhir ini nana
lg sensi, malah lo bentak-bentak” hardik Andreas dlm hati. Ketika gue sedih,
gue curhat ke Rendi- yg udh gue anggap seperti kakak gue sendiri-.
Balkon
Rendi ada di balkon lg
main gitar, dia heran karna tiba-tiba gue datang ke dia sambil nangis. “Rendi”
kata gue sambil menghampirinya lalu memeluknya, rendi yg gue peluk menatap gue
heran. “knp Na?” tanya Rendi lembut. “Ias nakal, masa dia bentak-bentak gue”
kata gue sambil manyun. “emang lo ngapain sampe dia ngebentak-bentak lo?” kata
Rendi penuh perhatian. “cma karna gue tarik doang headsetnya, dia langsung
marah” kata gue lg. “ya lo jg salah, knp lo tarik headsetnya? Itu namanya lo ga
punya etika, emg knp lo tarik headsetnya? Emg lo ada penting sama dy?” kata
Rendi masih penuh dgn perhatian.” Gue cma mau ngomong aja, tp dia ga denger”
kata gue sedikit manja. “yaudah ga usah dipikirin, gue hibur deh pake lagu, mau
ga?” tawar Rendi sambil tersenyum kearah gue, gue hanya mengangguk. Rendi emg
tmn yg top bgt (bcanya pake spasi ya, hehehe) deh, disaat gue lg badmood,
sedih,dll dia mampu bikin gue kembali ceria lg J. Ketika itu jg
Andreas datang, hatinya hancur ngeliat orang yg udh dia buat nangis mampu
dibuat tertawa oleh orang lain, dia menyesal udh mendatangkan air mata di pipi
nana yg mampu di hapus oleh rendi
Keesokan Harinya
Meja Makan Basecamp
“Na, berangkat bareng
ya?” tawar Andreas, gue hanya menatapnya datar. Andreas tdk berbicara tp dia
memberi isyarat ke gue untuk memaafkannya tp tidak gue hiraukan. “Na, lo udh ga
sensi kan? Bareng gue aja yok?” tawar Rio. “ga kok yo, boleh” jawab gue sambil
tersenyum.
Sekolah
Lorong kelas
“gila, enak ya jd
Christina, dikawal terus sama cowok-cowok kece. Pasti aman bgt tuh hidupnya
Christina” kata salah satu siswi sekolah itu. “wajar x, dia kan jg cantik. Gue
yakin tuh sahabat-sahabatnya ga hanya ke pengen jd sahabatnya tp pd berebut jd
pacarnya” kata siswi yg satu lg. “tp kayaknya gue yakin tuh ‘pengawal’nya harus
gigit jari, karna nana kan susah bgt jatuh cinta” kata siswi ketiga.
Ketika Nana cs lewat,
mata siswi-siswi yg td ngeliatinnya sinis bgt. “knp ngeliatin kita begitu bgt?”
tanya Lukas ke siswi-siswi itu. Ketika Lukas ngomong, siswi-siswi itu malah
masih ngeliatin genk gue dgn tatapan yg ga biasa “woi” bentak gue ke gerombolan
siswi-siswi itu, siswi-siswi itu kaget sambil gelagapan, “ngapain lo ngeliatin
kita begitu? Terpesona lo?” kata gue jutek, gerombolan cewek itu jd pd
ketakutan. “udh.. udh.. biarin, ayok ke kls” bisik Rendi ke telinga gue, ketika
Rendi ngomong gitu, gue langsung ngelanjutin jalan gue. Ketika genk gue udh
agak jauh dr gerombolan siswi itu, siswi itu langsung ngomongin genk gue dr
belakang “liat deh nana, gayanya ga bgt. sok cantik” gerutu salah seorang siswi
dari gerombolan siswi yg td “iya, sok bgt jd queen sih, iih” timpal siswi yg
lain, tiba-tiba gue nyamperin mereka. “kl ngomongin orang liat situasi dong”
kata gue ketus, bukannya pd takut atau pergi gerombolan siswi td malah natap
gue sinis. “apa lo ngeliatin gue gtu? Ngajak ribut? Hah?” bentak gue, ketika
gue di liat sedang marah-marah Andreas menghampiri gue. “udh yok? Ga penting
ngeladenin mereka” ajak Andreas lembut ke gue, gue hanya menurutinya saja
Basecamp
“Na, lo harusnya td jgn
kayak gitu, itu malah mancing mereka benci sama lo, apa lo mau punya musuh?
Terus lo di terror” nasehat Rendi. “iya, kali ini gue setuju sama Rendi” timpal
Dinan. “ya gimana ga emosi coba, mereka ngomongin gue pas ada guenya” gerutu
gue. “Nana, Tuhan sengaja ngirim mereka untuk ngebully lo, DIA ingin mengetest lo, apakah lo mendoakan mereka atau
malah membalasnya, tp ternyata lo malah membalasnya” Kata Kevin bijak, gue
hanya terdiam. Andreas yg sedang asik nonton TV tiba-tiba ikutan nimbrung “kita
tau lo tomboy, tp setomboy-tomboynya orang masih bisa kan mengendalikan emosi?”
timpal Andreas. “oh jd ini smua salah gue? Coba lo semua berada di posisi gue,
pasti bakal ngelakuin apa yg gue lakuin sekarang kan?” bentak gue lalu
meninggalkan sahabat-sahabat gue
Balkon
Nana memilih menyendiri
di balkon, dy ga ada yg mau ganggu, dy sedang melamun tp ga tau apa yg
dilamunkan. Ketika dy sedang asik melamun, tiba-tiba Andreas datang. “hai” sapa
Andreas ke gue, gue tdk menyahutinya. “marah ya sama aku?” tanya Andreas. “ga”
jawab gue singkat dan ketus “trus?” kata Andreas heran. “gue lg ga mau di
ganggu dulu, gue lg mau sendirian” kata gue datar. “aku temenin ya?” kata
Andreas lembut. “ga” bentak gue. “dasar ga tau diri, di lembutin malah
ngebentak, cewek aneh” caci Andreas. “aneh? Lo bilang gue aneh, cowok macam apa
lo?” bentak gue lg. “ah terserah lo, gue nyesel sempet suka sama lo, awalnya
minggu-minggu ini gue mau nembak lo, tp karna lo bawaannya tiap hari ngomel
mulu, gue batal buat nembak lo” kata Andreas lalu pergi.ketika Andreas ngomong
gitu, gue hanya bisa diam seribu bahasa alias cengo
please bgt ya guys kritik dan sarannya hehehe
thank you